Anak dan Pilihannya

Pada suatu hari, aku dan pasangan ngobrol santai tentang masa depan. Salah satu topik yang kami bicarakan adalah soal anak dan pilihannya di masa depan. Memang, sebelumnya hal seperti ini belum pernah terbicarakan dengan serius. Namun, sejak sering terlibat dalam beberapa kegiatan yang membahas tentang parenting, beberapa pertanyaan kemudian muncul dalam kepala kami.

Biar tidak pusing berdua, pertanyaan tersebut coba aku tuliskan. Biar kalian yang membaca juga ikut berpikir…

Identitas Gender atau Orientasi Seksual

Sebagai pribadi, aku berani menyatakan mendukung pilihan dari manusia terkait dengan identitas gender dan orientasi seksualnya. Menurutku, hal tersebut adalah kehendak bebas dirinya sebagai manusia.

Suatu ketika, aku coba merefleksikan proses hidup ini serta beberapa pilihan di dalam hidup. Salah satu pertanyaan yang muncul saat itu adalah “bagaimana jika orang terdekatmu, misalnya anakmu menyatakan bahwa dia seorang homoseksual atau transgender?” Terus terang, saat itu aku sendiri terkejut dengan pertanyaan tersebut. Selama ini, aku ikut mendukung dan mengkampanyekan pemenuhan hak untuk kelompok LGBT namun tidak pernah memikirkan hal tersebut.

Dibesarkan dengan konsep heteronormatif, mungkin pada awalnya aku akan kaget seperti orang tua kebanyakan butuh waktu untuk memahaminya. Tentu saja, setelah itu aku (dan pasangan) akan mendukungnya dengan sepenuh hati. Itu adalah kehidupannya dan sebagai orang tua yang baik adalah menemaninya menghadapi dunia patriakh yang tidak ramah dengan keberagaman seksual. Yang dibutuhkan oleh seorang anak yang come-out bukanlah caci maki atau stigma namun keluarga yang mencintainya dengan apa adanya serta mendukung setiap pilihannya.

Aku dan pasanganku sudah sepakat untuk mendidik anak kami dengan pendidikan seksualitas sejak dini. Tujuannya sederhana, agar mereka dapat menerima dirinya dengan apa adanya dengan pengetahuan yang cukup. Sehingga mereka tidak perlu khawatir akan dihakimi oleh kami jika memiliki orientasi seksual atau identitas gender yang berbeda dari orang kebanyakan.

Profesi

Pertanyaan yang muncul dari obrolan dengan pasanganku adalah mengenai pilihan profesinya kelak.

Jika bicara tentang pilihan profesi , aku pribadi tidak mau untuk masuk ke dalam institusi yang militeristik seperti militer dan kepolisian. Setelah cukup lama bekerja dengan isu HAM, sepertinya pilihan tersebut sangat beralasan. Maklum, dua institusi tersebut merupakan juara dalam melakukan pelanggaran hak warga negaranya.

Nah, bagaimana jika pada suatu saat anakku berkata ingin menjadi tentara atau polisi? Hehehe… ini bakal ribet karena kemungkinan besar aku akan menggunakan otoritas sebagai orang tua untuk mengarahkan anak sesuai dengan keinginanku. Namun, kembali lagi pada prinsip pengasuhan anak bahwa jangan pernah menghalangi pilihan dan mengecilkan hati mereka. Aku akan memberikan apresiasi atas keinginannya dan tentu saja berkomunikasi dengannya. Peran orang tua adalah memberikan informasi yang tepat saat anak memiliki cita-cita yang berlawanan dengan keinginannya.

Menikah atau Tidak Menikah

Ini adalah salah satu persoalan pelik jika hidup di tengah masyarakat yang percaya bahwa menikah adalah salah satu fase dalam kehidupan setiap manusia. Pengalamanku, tekanan yang dihadapi mulai dari orang tua, kerabat hingga lingkungan begitu besar soal pernikahan. Hingga saat ini, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul saat berkumpul dengan kerabat atau bertemu teman adalah “kapan nikah?”

Kalau buat aku sih, ini bukan persoalan yang pelik seperti yang di atas. Kebetulan, aku sendiri bukan orang menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang sakral. Menurutku, pernikahan adalah sebuah perjanjian perdata antara dua orang yang berkomitmen untuk hidup bersama. Yang penting buatku adalah relasi yang sehat dan setara. Saat ini, aku berencana menikah dengan pasangan bukan karena keinginan sendiri kok namun untuk memenuhi keinginan orang tua. Kebetulan, pasanganku juga tidak keberatan.

Jadi, jika suatu saat anakku mengatakan bahwa dia tidak ingin menikah, maka aku tidak akan seperti kambing kebakaran jenggot. Tentu saja, yang perlu aku lakukan adalah membincangkan dengannya mengenai konsekuensi yang akan dia dan aku sebagai orang tua akan hadapi. Mulai dari berbagai pertanyaan seperti di atas dan gunjingan yang terkadang bikin telinga panas.

Akhirnya, setiap apa pun pilihan yang dibuat oleh anak, perlu kita apresiasi dan dukung dengan memberikan informasi yang tepat. Meskipun kita sebagai orang tua tidak setuju, satu hal yang perlu kita ingat, mereka lah yang akan menjalani kehidupan ini dan menghadapi segala persoalannya.

Syaldi Sahude

Hidup dengan berbagai pertanyaan, itulah aku. Pernah menjadi kuli panggul di Tn. Abang membuatku tahu kehidupan buruh. Pernah menjadi bagian eksekutif muda yang membuatku muak. Akhirnya si botak memilih menjadi seorang Ronin di dunia masyarakat sipil...!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *