Mempertanyakan Kodrat Laki-laki dan Perempuan

Tadi sore, aku membeli manisan mangga di tempat langganan seperti biasa. Yang berjualan adalah seorang ibu paruh baya, mungkin berumur akhir 40-an. Saat akan membayar, tiba-tiba sang penjual bertanya “Untuk siapa mas?” Sejenak aku tertegun, lalu kujawab “buat saya sendiri, emang kenapa bu?” Dia menjawab “Oh saya kira buat istrinya, biasanya kan yang suka manisan mangga itu perempuan” lalu dia lanjutkan menceritakan tentang anak laki-lakinya yang juga suka dengan manisan salak. Sambil berjalan pulang, aku membatin di dalam hati bahkan makanan pun saat ini diasosiasikan dengan jenis kelamin tertentu.

Aku yakin pengalaman di atas pernah dihadapi oleh setiap manusia yang hidup di atas bumi dalam berbagai kondisi dan konteks yang berbeda. Tidak hanya makanan, tapi juga  hobi, perilaku, penampilan, profesi bahkan cara berbicara dilekatkan pada jenis kelamin tertentu. Masalahnya, jika kita tidak mengikuti atau patuh pada  aturan tidak tertulis tersebut maka konsekuensi yang harus dihadapi. Contoh paling sederhana adalah jika seseorang terlahir sebagai laki-laki, maka olah raga seperti sepakbola adalah hal yang “wajib” untuk jadi hobi. Tidak sedikit temanku yang berjenis kelamin laki-laki dicemooh oleh tongkrongannya hanya karena tidak suka menonton bola atau tidak punya klub sepak bola favorit.

Pertanyaan yang muncul kemudian di kepalaku adalah siapa yang membuat aturan-aturan tersebut? Jika ditanya ke mereka yang berusaha menegakkan aturan tersebut, maka jawaban paling sering muncul adalah emang dari sananya. Kalau yang ditanya sedikit cerdas, jawabannya sering mengutip dalil agama atau norma-norma di masyarakat.

Kodrat atau konstruksi?

Sering kali kita mendengar bahwa kodrat dari seorang perempuan adalah mengasuh anak, memasak dan melayani keluarga. Sementara laki-laki kodratnya adalah menjadi pemimpin dan pencari nafkah untuk keluarga. Dengan mengatakan hal tersebut sebagai hal yang kodrati, misalnya perempuan mengasuh anak maka secara otomatis laki-laki tidak memiliki kemampuan untuk mengasuh anak? Aku yakin banyak ayah yang akan menolak logika berpikir seperti. Ada banyak laki-laki yang saya kenal memiliki kemampuan mengasuh anak yang sangat baik. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan kodrat?

Ada baiknya membahas kembali apa sebenarnya perbedaan antara laki-laki dan perempuan sebelum mengulas kembali mengapa pembedaan tersebut hadir di masyarakat. Jika diselisik, makan perbedaannya laki-laki dan perempuan hanya terletak di organ dan fungsi reproduksi. Tentu saja ada hal lainnya, namun semuanya bersifat biologis namun terlalu panjang untuk dibahas dalam tulisan pendek ini. Perempuan (meskipun tidak semua) mampu melahirkan karena memiliki organ-organ yang memiliki fungsi reproduksi seperti vagina dan rahim. Apakah hal tersebut bisa dilakukan oleh laki-laki? Sudah jelas tidak mungkin! Hal seperti ini lah yang disebut sebagai sesuatu yang kodrati karena semua perempuan di dunia ini memiliki organ reproduksi seperti vagina dan rahim.

Persoalan yang disampaikan di awal tulisan ini bisa saja berawal dari pendidikan yang diperoleh mulai saat baru lahir. Mari kita lihat bersama, saat seorang bayi terlahir yang paling pertama disebutkan adalah jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan. Inilah awal manusia dilekatkan berbagai label dan harapan-harapan sesuai dengan jenis kelaminnya oleh masyarakat. Selanjutnya, bayi tersebut akan diberikan pakaian dengan warna dan motif yang dianggap sesuai dengan jenis kelaminnya, laki-laki berwarna biru sementara perempuan akan diberi warna pink atau warna cerah lainnya. Anak laki-laki seringkali dilarang untuk masak-masakan karena dianggap permainan perempuan dan begitu juga sebaliknya, perempuan akan dilarang jika ingin bermain sepak bola.

Situasi ini terus terjadi dalam tumbuh kembang manusia hingga dewasa. Secara tidak sadar kita kemudian dibedakan secara sosial dan budaya ke dalam kotak-kotak berdasarkan jenis kelamin. Perempuan kemudian dilekatkan pada sifat-sifat feminin; lemah lembut, emosional, lemah, sensitif, pemalu dan seterusnya sementara laki-laki sebaliknya diwajibkan untuk mengikuti nilai-nilai maskulin; kuat, tegas, pekerja keras, agresif. Ini berdampak pada penempatan peran di masyarakat bahwa perempuan berada di wilayah domestik sementara laki-laki di wilayah publik. Tidak hanya sampai di situ, pembedaan tersebut membuat posisi perempuan menjadi sub-ordinat (yang dipimpin) karena aksesnya dibatasi sehingga memiliki kontrol yang lemah. Sementara laki-laki dinobatkan menjadi pemimpin sehingga harus diberikan akses seluas-luasnya serta memiliki kontrol dalam segala hal.

Internalisasi

Akibatnya dari pembedaan di atas, bisa terlihat dengan jelas bahwa perempuan lah yang paling dirugikan. Secara tidak langsung, perempuan telah dipinggirkan dengan pelabelan yang negatif sehingga harus menanggung berbagai ekspektasi, dengan kata lain beban ganda. Dikarenakan posisinya sebagai sub-ordinat (yang dipimpin) maka perempuan menjadi sangat rentan mengalami kekerasan karena untuk menlanggengkan kuasa, kekerasan adalah alat yang paling ampuh.

Tentu saja proses ini tidak terjadi begitu saja. Pembedaan tersebut kemudian dipaksakan ke setiap manusia melalui norma-norma melalui masyarakat, citra dalam media bahkan negara melalui berbagai aturannya. Semua norma tersebut diyakini benar tanpa harus dipertanyakan sehingga menjadi indikator penilaian terhadap laki-laki dan perempuan. Hal ini terus berlangsung dan dilestarikan dari generasi ke generasi hingga akhirnya banyak orang yang menganggap pembedaan tersebut adalah kodrati.

Setiap upaya manusia untuk keluar dari kotak tersebut, maka berbagai konsekuensi telah menanti. Cemoohan seperti di awal tulisan adalah konsekuensi yang paling sering kita temui sehingga tidak sedikit yang menganggap itu lumrah dan terkadang beralasan it’s just a joke. Intimidasi dalam bentuk ancaman bahkan kekerasan fisik juga kerap digunakan untuk memastikan manusia tetap berada di dalam kotak tersebut.

Ibarat bangunan, selama ini manusia telah dikontruksi dengan baik sesuai dengan rancang bangun sang arsitek yang bernama budaya patriarki sehingga kita tidak melihat pembedaan tersebut menjadi persoalan. Budaya patriarki telah memberikan berbagai keistimewaan (dan juga persoalan) kepada laki-laki di tengah masyarakat. Bahkan perempuan yang menjadi pihak yang paling dirugikan dalam budaya patriarki terhegemoni dan ikut menjadi agen pelestari budaya patriarki

Sebagai manusia yang diberikan akal dan nurani, kita memiliki pilihan-pilihan bebas. Aku pribadi memilih untuk mempertanyakan dan menguji konsep tersebut demi kebaikan bersama. Dunia ini terlalu sederhana untuk dibuat kotak-kotak yang mengakibatkan sebagian manusia mengalami penindasan karena ketidakadilan. Dunia yang beragam dan begitu kompleks menguji kita apakah mampu melihat dan memperlakukan manusia sebagai manusia. Bagaimana dengan kamu?

Syaldi Sahude

Hidup dengan berbagai pertanyaan, itulah aku. Pernah menjadi kuli panggul di Tn. Abang membuatku tahu kehidupan buruh. Pernah menjadi bagian eksekutif muda yang membuatku muak. Akhirnya si botak memilih menjadi seorang Ronin di dunia masyarakat sipil...!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *