Menjadi Laki-laki adalah Tantangan

Sudah lama aku ingin menulis tentang ini, namun entah baru malam ini ada keinginan yang besar untuk segera menuliskannya. Aku ingin menuliskan bagaimana proses tranformasi diri terjadi dan apa alasan untuk perubahan tersebut. Harus diakui, menuliskan tentang masa lalu bukanlah hal yang mudah terlebih lagi jika itu adalah memori yang tak ingin dikenang.

Sejak lima tahun terakhir, aku aktif di gerakan perempuan, khususnya isu pelibatan laki-laki. Berawal sejak berproses di Yayasan Jurnal Perempuan, aku mulai terpapar berbagai pengetahuan tentang kekerasan terhadap perempuan serta teori-teori feminis. Saat ini aku terlibat aktif di Aliansi Laki-laki Baru, gerakan laki-laki untuk keadilan gender.

Terus terang, aku tidak pernah membayangkan diriku berada di titik ini, seorang laki-laki yang memperjuangkan kesetaraan gender. Bahkan terkadang masih ada pertanyaan; apakah aku benar berada dalam gerakan ini karena percaya pada tujuannya, yaitu keadilan gender? Atau hanya karena ingin dianggap “politically correct“? Atau justru memanfaatkan posisi ini untuk kepentingan pribadi? Semua pertanyaan ini terus aku jadikan bahan untuk merefleksikan setiap langkah dalam kehidupan ini.

Menjadi Bagian dari Pelaku.

Jika menengok ke masa lalu, aku adalah bagian dari mereka yang menjadi pelaku. Bagian inilah yang menjadi satu catatan dari kehidupanku yang sebenarnya tidak mudah dituliskan. Akan tetapi, sebagai proses untuk melakukan transformasi, salah satu langkah awal yang harus dilakukan adalah berani mengakui kesalahan yang pernah kita perbuat di masa lalu dan memastikan bahwa kesalahan tersebut tidak dilakukan lagi.

Salah satu tindakan yang dulu sering kulakukan adalah melecehkan perempuan dan transgender. Dari siulan di jalan, sampai ujaran yang melecehkan adalah beberapa cara yang aku lakukan. Bahkan dalam satu titik, aku pernah melakukan kekerasan fisik terhadap transgender yang “mangkal” tanpa alasan sama sekali, seperti hanya demi kesenangan semata. Bahkan laki-laki lain yang aku anggap lebih lemah, tidak ketinggalan menjadi korbanku mulai dari tindakan ejekan hingga kekerasan fisik. Saat itu, aku menganggap bahwa semua itu adalah hal yang lumrah. Laki-laki haruslah agresif dengan caranya masing-masing, salah satunya adalah menganggap diriku lebih baik (superior) dari pada perempuan, transgender bahkan laki-laki lain.

Dalam relasi dengan pasangan (pacaran), aku mencatat banyak kesalahan, baik di masa lalu hingga saat ini. Bahkan saat telah terpapar informasi tentang kesetaraan gender dan kekerasan terhadap perempuan, aku beberapa kali masih melakukan kekerasan dalam pacaran minimal tindakan yang secara sadar kulakukan

Dalam hubunganku terdahulu, dinamika relasi yang cukup kompleks posisiku sebagai laki-laki telah memberikan keistimewaan. Keistimewaan itu pula yang membuatku secara tidak sadar telah melakukan kekerasan dalam pacaran. Meskipun tidak pernah terjadi kekerasan fisik (setidaknya berdasarkan ingatanku), namun kekerasan psikis kerap kali terjadi. Selain itu beberapa perilaku yang awalnya kuyakini sebagai dinamika dalam pacaran ternyata adalah bentuk eksploitasi kepada pasanganku saat itu.

Tentu saja, aku tidak bisa memutar balik masa. Apa yang telah terjadi di masa lalu merupakan pembelajaran untuk tidak terulang kembali.Saat ini, aku coba membangun relasi yang lebih setara dengan pasanganku saat ini. Meskipun demikian, tantangannya semakin besar. Satu hal aku catat sebagai kesalahan terbesarku adalah melakukan kekerasan fisik terhadap pasanganku karena tidak mampu mengelola amarah.

Transformasi; Tantangan Seumur Hidup

Tidak ada satu alasan pun yang dapat jadi pembenaran mengenai tindakanku di masa lalu. Yang bisa aku lakukan saat ini adalah memastikan tidak lagi melakukan tindakan tersebut di masa yang akan datang, baik secara sadar maupun tidak. Logikanya, dengan pengetahuan dan pemahaman tentang HAM, khusunya tentang kesetaraan gender, sebagai pribadi sudah seharusnya tidak ada persoalan yang berarti. Namun dalam kenyataannya tidak semudah itu, banyak tantangan yang harus dihadapi.

Sebagai pribadi yang terlahir sebagai laki-laki dengan “keistimewaan” yang dilekatkan oleh masyarakat, tidaklah mudah untuk melepaskannya. Sampai detik ini, aku masih sering bertanya pada diri sendiri apakah rela kehilangan keistimewaan tersebut? Pertanyaan ini yang kemudian mendorong aku menganilisis kembali apa tujuanku sebenarnya dalam perubahan ini. Ternyata konstruksi sosial untuk menjadi laki-laki bukan hanya merugikan perempuan tapi juga¬† laki-laki. Jika harus mengikuti konstruksi tersebut, banyak hal yang bertentangan dengan apa yang aku yakini dan cita-citakan sebagai manusia. Tidak mudah, tapi hal itu harus dilakukan jika ingin memastikan bahwa keadilan bisa diwujudkan, minimal dimulai dari diri sendiri. Bukankah keistimewaan yang laki-laki miliki hanyalah ilusi yang merugikan diri sendiri dan juga perempuan?

Tantangan terberat dari proses transformasi adalah faktor eksternal. Budaya patriarki yang mengakar dengan hegemoni maskulinitas yang diutamakan menjadi persoalan selanjutnya. Berkaca dari pengalaman pribadi, sangat sulit meyakinkan keluargaku sendiri yang aku asumsikan tidak terlalu patriarkis pada prakteknya. Pada titik tertentu, mereka akan kembali pada nilai-nilai patriarki yang dianggap kodrat laki-laki dan perempuan. Belum lagi lingkungan di luar keluarga, makin sulit untuk menerima satu nilai yang dianggap tidak sesuai dengan “kebiasaan”. Sehingga aku tidak terlalu kaget saat mendengar seorang laki-laki yang sudah paham dan terpapar pengetahuan tentang gender menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan.

Intinya, tranformasi individu tidak akan berhasil jika tidak dibarengi oleh transformasi struktural. Beruntung saat ini, aku mendapatkan dukungan dari lingkungan yang mendukung kesetaraan sehingga bisa menjadi “kontrol sosial” untuk setiap tindakan yang berpotensi berlawanan dengan semangat keadilan gender. Proses inilah yang menegaskan bahwa perubahan menjadi “laki-laki baru” adalah tantangan seumur hidup bagi laki-laki. Katanya laki-laki selalu mencari tantangan, nah sudah siapkah dengan tantangan ini?

Syaldi Sahude

Hidup dengan berbagai pertanyaan, itulah aku. Pernah menjadi kuli panggul di Tn. Abang membuatku tahu kehidupan buruh. Pernah menjadi bagian eksekutif muda yang membuatku muak. Akhirnya si botak memilih menjadi seorang Ronin di dunia masyarakat sipil...!

You may also like...

1 Response

  1. 10 January 2014

    […] syaldi.web.id berbagi: Recommend on Facebook Tweet about it Subscribe to the comments on this post Print for […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *