Secuil Catatan dari Lagu Pukul Rata

Saat kali pertama mendengar lagu Pukul Rata dari Tika and The Dissidents featuring Yacko, liriknya membuatku tertegun sejenak. Kartika Jahja dan Yacko dengan apiknya mengemas pesan yang selama ini aku ingin sampaikan ke banyak kawan laki-laki. Saat itu pula, aku tergerak untuk membuat catatan singkat untuk menanggapi lagu tersebut. Berikut catatan dariku…

“Ih laki kok nangis? Jangan kayak perempuan deh”

Ya, kami laki-laki dibesarkan dengan berbagai petuah dari keluarga, masyarakat bahkan tafisr agama bagaimana menjadi seorang laki-laki. Kami harus menjadi yang paling kuat dan berani, tak boleh sedikit pun tampak lemah. Ekspresi emosi adalah hal yang terlarang bagi kami. Namun, di saat yang sama, kekerasan adalah ekspresi yang diamini oleh masyarakat.

Patriarki adalah penjara emas bagi kaum laki-laki. Budaya ini menempatkan kami di puncak segala aspek kehidupan berada di atas perempuan. Seolah-olah kami lahir dengan keistimewaan yang terberi oleh masyarakat. Tentu saja ada harga yang harus dibayar oleh laki-laki untuk menuju ke puncak. Kami harus berkompetisi menjadi yang terkuat dengan cara apapun. Baju zirah maskulinitas (kelaki-lakian) dikenakan kepada kami oleh masyarakat membuat laki-laki terasing dari nilai kemanusiaan yang hakiki.

Kami adalah subyek dan perempuan adalah obyek, itu adalah harga mati. Kami diperbolehkan, bahkan didorong untuk menindas perempuan. Akibatnya, kami terpaksa untuk menginjak-menginjak hak-hak perempuan bahkan laki-laki yang dianggap lemah.

Apakah kami lelah? Tentu saja kami lelah. Kami terlahir sebagai manusia yang sederajat dengan perempuan. Tidak ada satu manusia terlahir menjadi penindas atau yang tertindas. Lahir dari rahim seorang ibu, kami masuk ke dalam rahim sosial yang terus memaksakan nilai-nilai yang menindas kaum ibu kami.

Tentu saja, kita memang berbeda tapi tidak berarti kita tak bisa setara.

Saatnya kami laki-laki mengatakan cukup sudah! Mari bergandengan tangan untuk melepas belenggu yang menghimpit kita dan menjadi manusia seutuhnya

ps: Catatan ini dibacakan dalam Festival Tubuhku, Otoritasku pada 11 Maret 2016 di Kinosaurus Kemang. Festival ini sekaligus launching album Merah dari Tika and The Dissident.

Jika ingin mendengarkan lagunya, silahkan ke sini

 

Syaldi Sahude

Hidup dengan berbagai pertanyaan, itulah aku. Pernah menjadi kuli panggul di Tn. Abang membuatku tahu kehidupan buruh. Pernah menjadi bagian eksekutif muda yang membuatku muak. Akhirnya si botak memilih menjadi seorang Ronin di dunia masyarakat sipil...!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *