Tentang Pemilik Rumah

Handala.gif

Handala

Aku adalah seorang penikmat tembakau dalam kategori berat, penikmat kopi dan teh, workaholic, sedikit liar, temperamen, senang dengan anggrek dan bercita-cita menjadi petani anggrek. Sering menjadi “setan kecil” di antara para manusia yang merasa sebagai “malaikat”.

Pernah merasakan hidup sebagai kuli panggul di Tanah Abang. Di titik ini, aku belajar tentang hidup menjadi seorang buruh yang tergantung pada pasar. Tanpa kemampuan finansial, hanya dengan fisik, aku harus bertahan di tengah pusaran modal. Saat aku berpeluh, pemilik modal dengan tenang mendorongku untuk tetap bekerja. Maklum, margin keuntungannya belum cukup untuk membeli satu mobil lagi.

‘Perjuangan’ menjadi social climber membawaku merasakan jadi pegawai kantoran. Dengan pakaian yang necis ala pegawai, tak ada lagi muka kusut atau kelelahan karena memanggul beban. Obrolan basa-basi dan saling memuji kepada teman yang siap disikut dalam kerja menjadi makanan sehari-hari.

Saat kejenuhan menghampiri di balik meja, tidak ada pilihan lain untuk segera angkat kaki. Perkenalan dengan dunia sosial membuatku memilih untuk menjadi relawan. Titik balik kehidupan terasa sangat menyenangkan. Namun tantangan pemenuhan kebutuhan materi menjadi soal. Mau tidak mau, harus mencari sesuap nasi.  Menjadi ‘tukang’ bikin web-site dan pencatat proses adalah pilihan realistis.

Sempat mencicipi beberapa wilayah konflik dan bencana, membuatku terus berusaha untuk memahami substansi manusia. Aceh merupakan wilayah yang memberikan warna dalam wacanaku. Belajar tentang berbagai isu dari teman menjadi makanan harian. Membuatku semakin memahami persoalan manusia serta kompleksitasnya membangun gerakan.

Persahabatan dan pengkhinatan dalam kehidupan membangun kedewasaan akan bertindak di dalam dunia sosial. Utopia revolusi terasa semakin jauh namun menguat dalam pikiran.

Belajar dari pengalaman, aku sekarang memilih untuk menjadi ‘ronin’ dan berurusan dengan dokumen yang tidak menarik perhatian para selebritis gerakan sosial. Memungut remah-remah yang ditinggalkan bukanlah pekerjaan yang menyenangkan akan tetapi harus dilakukan.